
Sejak kecil, Rubin sudah terbiasa melihat banyak gadget
baru. Ini karena ayahnya, seorang psikolog yang banting setir ke bisnis direct
marketing, menyimpan produk elektronik yang akan dijualnya di kamar Rubin. Ia
memiliki minat besar pada segala hal yang berbau robot. Di Carl Zeiss A.G.,
tempat pertama kali ia bekerja setelah lulus kuliah, Rubin ditempatkan di
sebuah divisi robotika, tepatnya pada komunikasi digital antara jaringan dengan
perangkat pengukuran dan manufaktur. Setelah dari Carl Zeiss, ia sempat bekerja
di bidang robot di sebuah perusahaan di Swiss.Karier Rubin di bidang robotika
nampaknya semakin cerah, namun hidupnya berubah gara-gara liburan di Cayman
Island pada tahun 1989. Saat sedang mengunjungi kepulauan tropis di Jamaika
itu, Rubin tak sengaja bertemu dengan seorang bernama Bill Caswell. Pria ini
sedang tidur di tepi pantai, terusir dari sebuah cottage setelah bertengkar
dengan pacarnya. Andy menawarkan pria itu tempat tinggal dan sebagai balas
budi, Casswell menawarkannya pekerjaan. Kebetulan yang menakjubkannya adalah
pria itu bekerja di Apple. Di Apple, Rubin mengalami masa-masa yang
menyenangkan. Pada saat itu, Apple masih dalam kondisi baik berkat komputer
Macintosh. Budaya Apple pun menular pada diri Rubin. Di sana ia sempat
melakukan kejahilan, seperti memprogram ulang sistem telepon sehingga ia bisa
berpura-pura sebagai sang CEO, John Sculley. Lelucon seperti itu mungkin akan
disukai Steve Jobs, pria yang gemar membuat lelucon lewat telepon, namun ketika
itu adalah periode Apple tanpa Jobs.Dari bagian manufaktur, Rubin pindah ke
bagian riset di Apple. Kemudian, pada tahun 1990, Apple melakukan spin off
untuk membentuk sebuah perusahaan bernama General Magic dan Rubin ikut di
dalamnya. General Magic berfokus pada pengembangan perangkat genggam dan
komunikasi. Para engineer yang gila kerja, termasuk Rubin tentunya, berhasil
mengembangkan sebuah peranti lunak bernama Magic Cap. Sayangnya, Magic Cap
tidak mendapat sambutan dari perusahaan handset dan telekomunikasi. Beberapa
yang menerapkan Magic Cap hanya melakukannya sebentar. General Magic pun
akhirnya hancur.Beberapa pengembang di General Magic, bersama beberapa veteran
Apple, kemudian mendirikan Artemis Research. Perusahaan ini mengembangkan sesuatu
bernama webTV, sebuah upaya awal untuk menggabungkan Internet dengan televisi.
Rubin bergabung dengan Artemis untuk ikut mengembangkan webTV tersebut. Saat
Microsoft membeli Artemis, di 1997, Rubin pun ikut bergabung dengan perusahaan
raksasa itu. Episode gila khas Rubin kembali terjadi di Microsoft. Rubin
membangun sebuah robot yang dilengkapi kamera untuk mengerjai rekan-rekannya.
Gilanya, robot itu terhubung ke Internet dan pada satu insiden sempat dibobol
oleh pihak di luar Microsoft. Pada tahun 1999, Rubin keluar dari webTV (dan
artinya, ia tak lagi menjadi kar¬yawan Microsoft). Ia kemudian me¬nyewa sebuah
toko di Palo Alto, California, dan menyebut toko itu sebagai laboratorium.Di
tempat yang penuh dengan berbagai mainan robot koleksi Rubin, lahirlah sebuah
ide untuk produk baru. Bersama beberapa rekannya, Rubin kemudian mendirikan
Danger Inc. Sukses diraih Danger melalui sebuah perangkat bernama Sidekick.
Aslinya, perangkat ini dinamai Danger Hiptop, namun di pasaran ia dikenal
sebagai T-Mobile Sidekick.Saat ini, Sidekick memang sudah terlihat usang, namun
pada masanya, Sidekick adalah sebuah benda yang ganjil dengan konsep teknologi
yang melampaui zaman. Perangkat itu, menurut Rubin, merupakan pengakses data
dengan kemampuan telepon. Ketika muncul di pasaran, Sidekick harus menghadapi
kenyataan bahwa PDA sedang kehilangan pasar. Namun, Rubin menegaskan bahwa
Sidekick bukanlah PDA.Rubin
juga berkata
“Seharusnya, orang-orang bukan bertanya apakah ini PDA atau ponsel. Mereka
harusnya bertanya, apakah ini platform untuk pengembang pihak ketiga? Ini
adalah hal yang baru. Ini adalah untuk pertama kalinya sebuah ponsel dijadikan
platform untuk pengembang pihak ketiga,” kata Rubin.Sekarang, apa yang
dikatakan Rubin bukan hal aneh lagi. Lihat saja Apple de¬ngan jutaan aplikasi
pihak ketiga yang hadir di iPhone. Hal lain yang dilakukan Danger, yang pada
masa itu belum terpikirkan, adalah menjembatani antara pembuat handset dengan
penyedia jaringan. Danger memutuskan untuk berbagi keuntungan dengan T-Mobile
dalam layanan Sidekick. Dengan demikian, Danger tak me¬ngandalkan penjualan
handset sebagai sumber penghasilan satu-satunya, namun juga dari layanannya.
Ini membuat perusahaan pembuat perangkat (Danger) memiliki tujuan yang sama
dengan penjual perangkat (operator telekomunikasi T-Mobile).Rubin meninggalkan
Danger pada tahun 2004. Pada2008, perusahaannya itu dibeli oleh Microsoft. Sang
raksasa rupanya tertarik untuk memasuki bisnis ponsel dengan lebih a¬gresif
lagi. Nilai yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung. Menurut kabar yang
beredar Microsoft membeli Danger de-ngan harga 500 juta dolar. Namun, pembelian
Danger oleh Microsoft ternyata tidak membawa hasil yang berbunga-bunga. Para
eksekutif yang tersisa dari Danger digabungkan oleh Microsoft ke dalam Mobile
Communication Business, dari divisi Entertainment dan Devices. Kemudian, mereka
diminta mengembang sebuah ponsel yang dikenal dengan sebutan Project Pink.
Targetnya, ponsel ini harus bisa menjadi pesaing iPhone dan BlackBerry. Menurut
ComputerWorld, Project Pink menderita penyakit klasik di sebuah per¬usahaan
besar. Karena proyeknya cukup bergengsi, ia diperebutkan oleh beberapa pihak.
Dan lebih parahnya lagi, perkembangannya makin melenceng dari yang diinginkan.
Contohnya, awalnya ponsel itu akan dikembangkan dengan basis Java namun
kemudian diminta untuk menggunakan sistem operasi Microsoft.Sayangnya, Windows
Phone 7 yang seharusnya bisa digunakan untuk Project Pink, belum siap.
Walhasil, saat diluncurkan, ponsel yang akhirnya bernama Microsoft Kin ini
menggunakan sistem operasi Windows untuk ponsel yang “lawas”. Sambutan pasar
yang dingin pun membuat Kin akhirnya harus ditutup, hanya beberapa bulan sejak
diluncurkan. Nasib layanan Sidekick, yang diwarisi Microsoft dari Danger, juga
tak terlalu baik. Dalam satu insiden, yang masih belum diketahui pasti apa
penyebabnya, pelanggan Sidekick tiba-tiba kehilangan semua data mereka. Satu
hal yang perlu diketahui, semua data pada Sidekick memang disimpan ‘di awan’
(dalam hal ini pada server yang dikelola Microsoft dan bisa diakses melalui
Internet). Nah, ketika server itu mengalami gangguan, semua data pengguna
Sidekick pun lenyap.Pada awal tahun 2002, Rubin sempat memberikan sebuah kuliah
di Stanford mengenai pengembangan Sidekick. Karena, meski penjualan Sidekick di
pasaran tak meledak, perangkat itu dinilai cukup baik dari sisi engineering.
Sebuah kebetulan bahwa Larry Page dan Sergei Brin, pendiri Google, ikut hadir
dalam kuliah tersebut. Selepas kuliah, Page menemui Rubin untuk melihat
Sidekick dari dekat. Rupanya, Page melihat, perangkat itu menggunakan search
engine Google. “Keren,” ujar Page. Ini adalah sebuah titik tolak bagi Page
untuk sebuah ide yang dalam beberapa tahun kemudian akan terwujud, sebuah
ponsel Google. Kurang lebih dua tahun setelah itu, Rubin telah meninggalkan
Danger dan mencoba melakukan hal-hal baru. Termasuk di antaranya mencoba
memasuki bisnis kamera digital sebelum akhirnya ia mendirikan Android.Rubin
menginkubasi Android saat ia menjadi enterpreneur-in-residence bersama perusahaan
modal ventura Redpoint Ventures di 2004. “Android berawal dari satu ide
sederhana, sediakan platform mobile yang tangguh dan terbuka sehingga bisa
mendorong inovasi lebih cepat demi keuntungan pelanggan,” ujar Rubin. Pada Juli
2005, 22 bulan setelah Android berdiri, perusahaan itu ditelan oleh raksasa
Google. Rubin pun memilih untuk bergabung dengan Google. Ketika membeli Android
Inc., Google tidak menyebutkan dengan rinci berapa harga yang dibayarkan dan
apa yang i¬ngin dilakukannya dengan perusahaan itu. Bahkan, Google menyebut
pembelian itu sebagai akuisisi terhadap sumber daya manusia dan teknologinya
saja. Selain Andy Rubin, Google memang meraup banyak orang-orang brilian dari
Android. Ini termasuk Andy McFadden (pengembang WebTV bersama Rubin, dan juga
pengembang Moxi Digital); Richard Miner (mantan Vice President di perusahaan
telekomunikasi Orange); serta Chris White (pendiri Android dan perancang
tampilan serta interface WebTV).Bersama Google, Android diberi kekuatan ekstra.
Perusahaan asal Mountain View, California itu kemudian membentuk Open Handset
Alliance untuk mengembangkan perangkat bagi Android.
di kutip dari: http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/06/biografi-andy-rubin-penemu-os-android.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar